umum
PELUANG KESETARAAN GENDER UNTUK PERADABAN BARU YANG LEBIH BAIK







Seiring dengan berubahnya cara pandang masyarakat terhadap peran dan posisi wanita ditengah masyarakat, maka saat ini sebagaimana kaum pria banyak kaum wanita yang berkarir, baik dibidang social, politik, pemerintahan dan kemiliteran. Namun sulitnya pengakuan sosial terhadap keterlibatan wanita di ranah publik. Selain disebabkan oleh faktor budaya, didasarkan pula oleh pemahaman agama yang mana ada pihak yang berkuasa menginginkan masyarakat untuk mempertahankan tradisi yang telah ada tanpa melihat peluang serta ancaman ketika kaum wanita dibatasi ruang geraknya diranah domestik maupun publik.
Ketika memperbincangkan tentang persamaan hak dan kedudukan antara pria dan wanita, muncullah persoalan yang krusial serta kerumitan dalam memberikan solusi. Permasalahan gender sangat beragam, mulai dari masalah domestik hingga masalah publik. Beberapa persoalan terkait gender yang sering terjadi yakni  Ketidakadilan itu terlihat dari adanya marginalisasi, diskriminasi dan subordinasi wanita dan pria. Diskriminasi wanita ditempat kerja, wanita ditempatkan diposisi sekunder karena munculnya anggapan wanita cenderung lebih pasif dan memiliki intelektual lebih rendah disbanding pria. Tak Jarang wanita dipandang kurang produktif karena terhalang cuti hamil dan melahirkan serta pengupahan lebih rendah dari pria karena wanita dianggap pencari nafkah tambahan.
Padahal yang membedakan diantara mereka hanyalah Kesetiaan dan pengabdiannya kepada agama, bangsa dan Negara.

3 Prinsip dasar agar semua elemen masyarakat mampu merasakan kesejahteraan, persatuan dan kesatuan yaitu :
1.      KEADILAN
Dalam segi keadilan, wanita harus memiliki hak serta tanggung jawab yang sama sebagaiman kaum laki – laki memperolehnya.
2.      PERSAMAAN
Dalam segi persamaan, wanita maupun lelaki seyogyanya harus berjalan beriringan, saling berkontribusi, saling kerjasama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian. Bukan malah saling menuntut ataupun saling memonopoli peran kontributif.
3.      MUSYAWARAH
Dalam segi musyawarah, peran wanita  dan pria ketika berada dalam suatu kondisi yang susah untuk diselesaikan, maka musyawarah menjadi satu – satunya jalan agar dapat diselesaikan dengan baik serta disesuaikan dengan kompetensi yang dominan dari salah satunya.

Hal ini membuktikan, bahwa untuk membangun persatuan dan persaudaraan dalam berbangsa serta bernegara seharusnya memiliki nilai Humanis yang mana hak, kewajiban, serta kedudukan seseorang di Junjung tinggi tanpa dilatarbelakangi perbedaan gender agar  fungsi dan perannya mampu diimplementasikan baik dalam ranah domestik maupun publik.

Perkembangannya tidaklah semudah yang dibayangkan, perjuangan untuk mewujudkan persamaan hak antara pria dan wanita akan selalu berhadapan dengan gelombang arus sosial budaya, system bahkan agama yang sejak dulu lebiih dominan pada budaya patriarkhi dimana lebih mengedepankan pria sebagai makhluk yang lebih unggul dibandingkan wanita.

Saat ini, dengan seiring perkembangan zaman serta luasnya wawasan, maka kita tidak bisa memungkiri bahwa wanita memiliki peran fungsi serta kemampuan yang luar biasa dalam membangun sebuah peradaban karena dalam tubuh kaum wanita memiliki nilai – nilai berharga yang tidak dimiliki oleh kaum pria.
Sebagaimana perjuangan pahlawan bangsa yang dilatarbelakangi dari kaum wanita dimana yang tidak kalah hebat perjuangannya dengan pahlawan dari kaum laki - laki, yakni : R.A. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. 
Wassalam,,, ( Umair )

About KIM Pelangi Krembangan

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.